Minggu, 09 September 2007

Pram, Palu Arit dan Happy Salma

May, 03 2006 @ 09:03 pm
Pram, Palu Arit & Happy Salma
“Pram meninggal pagi ini jam 08.55”. Begitu SMS dari Mujib, pemilik penerbit Lentera Dipantara, yang menerbitkan karya-karya Pramudya Ananta Toer. “Pengarang prosa Indonesia nomor wahid, tanpa saingan, dalam abad ini,” kata A Teeuw, kritikus asal Belanda. Pramoedya Ananta Toer mengakhiri perjalanan panjangnya pada usia 81 tahun, 30 April 2006.

Maka sebuah rumah di Jalan Multi Karya II Nomor 26, Utan Kayu segera menjadi sempit karena riuhnya kerabat dan sahabat yang melayat. Tampak ikut bersesak antara lain Yeni Rosa Damayanti, Budiman Sujatmiko, Ratna Sarumpaet, Bimo Nugroho, Goenawan Muhamad, Eryana Hardjapamekas, Jero Wacik, Romo Mudji Sutrisno, Nurul Arifin dan Mayong, serta Oey Hay Djoen. Tampak pula karangan bunga dari Happy Salma, PRD, PDI P, Playboy Indonesia, dan Yusuf Kalla. Sahabat dan karangan bunga di Multi Karya dan yang mengantarkan ke pemakaman menunjukkan Pram yang beragam, berwarna. Setidaknya warna itu sastra dan politik. Tak dapat dimungkiri, Pram adalah salah satu ikon kiri di Indonesia. Pesonanya tak hanya buat kawan palu arit namun juga si cantik Happy Salma. Pram adalah salah satu pilar pendukung Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Melalui Lentera, suplemen koran PKI Bintang Timoer yang diasuhnya, dia mengusung semangat realisme sosialis dalam kesusatraan. Di situ pula dia menyerang sastrawan penganut humanisme universal.

Ketika zaman berganti, Pram ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru selama 14 tahun tanpa diadili. Ia tak cuma kehilangan kemerdekaan, tetapi juga harta miliknya: buku-bukunya dijarah dan rumahnya disita tentara. Lalu kita tahu dari Pulau Buru lahir tetralogi termasyhur: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Kerasnya Pulau Buru ditandai dengan pendengaran yang terganggu. Inilah "oleh-oleh" selama mendekam di pulau pembuangan itu. "Tahun 1965 saya dipopor dengan senapan oleh Koptu Sulaeman sambil dia berteriak-teriak di telinga saya," katanya. Pulau Buru membuat kesadaran baru tentang hidup, “Saya lebih percaya pada hari depan kemanusiaan.

”Rasanyanya baru kemarin, ketika sebuah pameran sekitar 160 sampul buku karya Pram dihelat sekelompok anak muda untuk menghormati karya-karya besarnya. Begawan sastra Indonesia itu diperingati hari lahirnya yang ke 81, 6 Februari lalu. Dalam perayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM) tersebut, Pram seperti berulang tahun yang ke 18. Pasalnya, acara ayah delapan anak, kakek 16 cucu dan buyut dua cicit itu dikemas gaul abis. Dari pentas baca puisi, monolog, sampai band beraliran rock yang salah satu pemainnya cucu Pram. Bau wangi Rieke Dyah Pitaloka sampai kepulan asap rokok para punkers memenuhi Teater Kecil. Pendek kata Pram waktu itu gembira, bugar dan tegar.

Di usia yang kian senja, satu per satu penyakit mulai mendera Pram. Pada 1999, dia mengidap penyakit jantung. Meski demikian, itu tak menyurutkan kebiasaan Pram merokok. Tak tanggung-tanggung, dalam sehari dia bisa menghabiskan dua bungkus rokok yang setiap bungkus berisi 16 batang. Kebiasaan lainnya baik di Utan Kayu maupun di Bojong Gede, menyapu dan membakar sampah daun-daun kering di halaman rumahnya.

Ayah Ros, Ety, Neni, Astuti, Rina, Rita, Yan, dan Yudi itu telah pergi untuk selamanya. Pria yang pernah masuk nominasi sebagai kandidat peraih hadiah Nobel untuk bidang sastra itu, meninggalkan warisan yang amat berharga bagi dunia sastra Indonesia. Dunia juga mengakui dengan diterjemahkan karya-karyanya dalam 38 bahasa mulai Yunani, Spanyol, Belanda, Jerman, Korea, Jepang, Turki, hingga bahasa Malayalam (bahasa salah satu etnis di India) itu. Albert Camus-nya Indonesia, sebut The San Fransisco Chronicle, menjelang tutup usia, menyatakan keprihatinannya atas kondisi mutakhir Indonesia yang buruk. Katanya, itu terjadi karena orang Indonesia tidak produktif, tapi lebih konsumtif sehingga menghasilkan benua yang namanya korupsi. "Orang Jerman pernah mengatakan orang Indonesia orang kuli. Mereka mau membayar hanya untuk menjadi kuli," ujar penyandang gelar doktor honoris causa dari Michigan University pada 1999 tersebut.

Rasanya baru kemarin, ketika wangi parfum Happy Salma berbaur dengan para punkers yang mengidolakan Kawan Pram. Selamat jalan Bung Pram. Semoga di alam lain Bung menemukan rokok kretek dan sampah daun yang berserakan.

By: Tri Agus Siswowiharjo Category: Tribute To Pram Parasindonesia.com

Tidak ada komentar: